Ini Lima Tips Parenting ala Mantan Wapres Try Sutrisno
Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno, Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia telah meninggalkan kita untuk selamanya. Salah satu putra terbaik bangsa yang wafat pada Senin, 2 Maret 2026/ 12 Ramadan 1447 H dalam usia 90 tahun itu patut dikenang sebagai sesepuh TNI penerima estafet regenerasi Angkatan ’45 dan tokoh nasional yang dihormati. Selain keberhasilannya dalam pengabdian dan karier kemiliteran yaitu menjadi Panglima Daerah Militer, KSAD, Panglima ABRI (Panglima TNI) dan Wakil Presiden selama satu periode mendampingi Presiden Soeharto, Try Sutrisno adalah figur orangtua yang sukses mendidik 7 orang putra-putrinya.
Sewaktu syukuran ulang tahunnya ke-90 pada 15 November 2025 diluncurkan buku Spesial 90 Tahun Try Sutrisno: Filosofi Parenting: Rahasia Pola Asuh Sang Jenderal Agar Anak dan Orang Tua Bahagia Bersama. Buku tersebut disusun oleh Adyaksa Dault dan tim berdasarkan penuturan yang disampaikan oleh 7 putra-putri Try Sutrisno.
Berikut 5 tips parenting Try Sutrisno dan istrinya Tuti Sutiawati dalam mendidik putra-putrinya sebanyak 7 orang sesuai bakat dan bidang masing-masing yang diceritakan dalam buku Filosofi Parenting Try Sutrisno, penerbit Renebook 2025 sebagai berikut:
- Kenali karakter setiap anak. Ada yang ekstrover dan butuh ketegasan, ada yang introver dan butuh kelembutan.
- Jangan banding-bandingkan anak. Perbandingan bisa mematahkan semangat, terutama bagi anak yang masih beradaptasi.
- Gunakan pendekatan berbeda. Hukuman, teguran atau dialog, pilih cara yang sesuai dengan karakter dan jiwa anak.
- Jadikan masalah sebagai peluang. Alih-alih marah, buatlah opsi lain yang membuat anak berpikir ulang.
- Tujuan utama mendidik adalah membentuk pribadi. Bukan sekadar nilai bagus atau kepatuhan, tapi tumbuhnya kesadaran dan tanggung jawab dalam diri anak.
Try Sutrisno mendidik putra-putrinya berlandaskan nilai-nilai agama, kesederhanaan, disiplin, menghargai orang kecil, keseimbangan hidup dan menjauhi perilaku aji mumpung. Bagi Try Sutrisno, pendidikan adalah yang utama bagi setiap anak. Orangtua tidak harus mewariskan harta, tetapi ilmu wajib ditinggalkan. Harta bisa habis, ilmu akan terus hidup, bahkan jadi bekal untuk perjalanan di dunia dan akhirat.
Pesan agar menjaga integritas kapan dan di mana pun ditanamkan kepada putra-putrinya, antara lain, “Jangan mengambil yang bukan hakmu, karena yang bukan jatahmu tak akan pernah jadi milikmu.” dan “Jangan berpegang pada sesuatu yang tidak kekal. Pangkat dan jabatan akan hilang. Yang abadi hanyalah amal dan nama baik.”
Try Sutrisno menekankan kepada semua putra-putrinya semenjak mereka masih kecil dan remaja, “Jangan melihat ke atas, karena langit itu tak terbatas. Lihatlah ke bawah, agar kalian sadar banyak orang yang lebih kekurangan.” Kepada para orangtua Try Sutrisno mengingatkan bahwa memanjakan anak sama dengan membunuh masa depannya.
Melalui penerbitan buku Try Sutrisno berpesan kepada para calon orangtua dan orangtua di Indonesia bahwa belum terlambat untuk menjadi orangtua yang lebih baik, berapa pun usia pernikahan anda, sebab bangsa yang besar berawal dari keluarga yang bahagia. Ibu dan Bapak bukan sekadar menjadi orangtua dalam pengertian umum, tetapi harus bisa menjadi “guru kehidupan” bagi putra-putrinya.
(M. Fuad Nasar).
