Ibu, Magnet Spiritual Kenapa Aku Harus Mudik
Ada alasan mengapa jutaan orang rela menempuh perjalanan panjang setiap menjelang Lebaran. Jalanan macet, tubuh lelah, ongkos membengkak, semua seolah tak berarti. Sebab di ujung perjalanan itu, ada satu sosok yang menjadi tujuan sangat penting, ibu.
Ibu, dalam banyak hal, adalah “jimat” kehidupan. Bukan dalam arti mistis, melainkan sebagai kekuatan batin yang mengikat jiwa anak-anaknya. Dari rahimnya, kehidupan bermula. Sembilan bulan ia menanggung beban, antara hidup dan mati, “wahnan ‘ala wahnin” demi menghadirkan kita ke dunia. Rasa sakit yang tak terperi itu dilalui dengan satu keyakinan, anaknya harus hidup dan juga sehat.
Maka wajar jika dalam ajaran agama, ibu ditempatkan begitu tinggi. Surga bahkan disebut berada di bawah telapak kakinya (al-janntu tahta aqdamil ummahat). Bukan sekadar ungkapan, tetapi penegasan bahwa bakti kepada ibu adalah jalan paling dekat menuju ridha Allah.
Sejarah kehidupan manusia penuh dengan pelajaran. Ada kisah-kisah pilu tentang anak yang durhaka, yang pada akhirnya menuai penyesalan panjang. Kisah terkenal dalam legenda Nusantara adalah si Malin Kundang. Namun tak sedikit pula cerita tentang keberhasilan anak-anak yang hidupnya penuh berkah karena doa seorang ibu yang tak pernah putus. Dari lisannya yang sederhana, mengalir harapan yang menembus langit.
Lebaran menjadi momentum paling terasa untuk menyadari semua itu. Ia bukan sekadar hari kemenangan, tetapi juga hari pulang, kembali kepada akar, kepada kasih yang tak pernah menuntut balasan. Itulah sebabnya, bagi para perantau, para pekerja di kota-kota, ibu adalah magnet spiritual yang memanggil mereka untuk pulang.
Bayangkan seorang anak yang telah lama merantau. Di tengah hiruk-pikuk kota, di antara ambisi dan tuntutan hidup, ada ruang kosong yang tak bisa diisi oleh apa pun, kecuali satu hal, yaitu pelukan ibu. Maka ketika takbir mulai berkumandang, kerinduan itu menemukan jalannya.
Seberat apa pun perjalanan mudik, selalu ada kegembiraan yang menyertainya. Senyum mengembang, hati berbunga, hanya karena satu bayangan, bisa mencium tangan ibu, memeluk punggungnya yang renta, memohon maaf, dan merasakan hangat dekapannya. Di situlah lebaran menemukan maknanya yang paling dalam.
Namun, hidup tidak selalu memberi kesempatan yang sama. Ada mereka yang harus pulang bukan ke rumah, melainkan ke pusara. Di hadapan nisan sederhana, mereka bersimpuh, menengadahkan doa terbaik dengan suara bergetar. Tak ada lagi tangan yang bisa dicium, tak ada lagi senyum yang menyambut di pintu. Yang tersisa hanya kenangan, dan penyesalan yang sering datang terlambat.
Ibu, jasamu begitu besar. Tak ada satu pun yang mampu menggantikan posisimu. Engkau adalah rumah, bahkan ketika rumah itu sudah tak lagi berwujud.
Saat Lebaran tiba, ingatan pun berputar. Masa kecil di kampung kembali hadir, begitu jernih dan hangat. Dapur yang sibuk, aroma opor ayam yang mengepul, jenang (dodol) khas lebaran yang diaduk dengan penuh kesabaran, rengginang yang dijemur di halaman. Tawa kecil, langkah riang, dan wajah ibu yang selalu tampak sibuk namun bahagia.
Kini, semua itu hanya tersimpan dalam relung hati.
Ibu, kini engkau telah berada dalam dekapan kasih Allah, izinkan aku menyampaikan rindu ini. Senyummu di akhir hayatmu sekian tahun lalu, yang sangat renta namun tetap penuh cinta, masih terpatri kuat. Ia menjadi pengingat bahwa kasihmu tak pernah berkurang, bahkan saat tubuhmu melemah.
Maafkan aku ibu, yang belum sempat membalas semua pengorbananmu. Jarak dan waktu dulu terasa seperti alasan karena aku merantau, kini berubah menjadi beban penyesalan. Betapa banyak kesempatan yang terlewat, betapa sedikit bakti yang sempat kuberikan (air mata mengalir menulis kalimat ini).
Dan kini, setiap takbir di hari raya Idul Fitri yang berkumandang selalu membawa air mata. Ia bukan hanya seruan kemenangan, tetapi juga panggilan kenangan. Tentang aku yang kecil, aku yang lugu dulu turut membantu menyiapkan hidangan lebaran. Berlari-lari di sekitar rumah bersama teman-teman, yang merasa dunia begitu lengkap karena ada engkau, ibu.
Di hari yang fitri ini, hanya satu doa yang bisa kupanjatkan, ya Allah, muliakanlah ibuku, dan juga bapak di sisi-Mu. Lapangkan kubur keduanya, terangilah alamnya, dan tempatkan mereka di sisi terbaik surga-Mu. Ibuuu, aku segera menemui di pusaramu, dan tentu juga pusara bapak.
Lahumal al-Fatihah…
Thobib Al-Asyhar, Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kemenag
