Rumah Tangga Bahagia ala Haji Agus Salim
Bangsa Indonesia mengenang Haji Agus Salim sebagai pemimpin, tokoh pergerakan kemerdekaan, negarawan, diplomat dan ulama intelek yang dijuluki “The Grand Old Man” oleh Presiden Soekarno. Haji Agus Salim berasal dari keluarga terpandang di Koto Gadang, Sumatera Barat. Di masa perjuangan ia rela hidup melarat demi memperjuangkan cita-cita bangsanya. Kehidupan Haji Agus Salim sebagai pejuang waktu itu identik dengan istilah “leiden is lijden”, jalan pemimpin bukan jalan yang mudah, memimpin adalah menderita.
Seusai perang kemerdekaan dan perjuangan diplomasi, pada tahun 1952, murid-murid dan sejumlah sahabatnya memprakarsai acara syukuran ulang tahun ke-40 perkawinan Haji Agus Salim dan istrinya Ibu Zainatun Nahar yang akrab dipanggil Maatje. Kepada para tamu yang hadir mengucapkan selamat atas perkawinan berbahagia itu, dengan kalimat yang pendek tapi mengharukan, Haji Agus Salim berkata bahwa perkawinan berbahagia 40 tahun itu bukanlah atas teori beliau, melainkan dengan izin dan keridhaan Allah semata-mata.
“Kalau Tuhan menghendaki, bisa saja kami bercerai berpisah dalam waktu yang kami sendiri tidak merencanakannya terlebih dahulu. Maka Tuhanlah yang memelihara perkawinan kami ini, sampai berlangsung 40 tahun, dan tetap dengan kepercayaan kepada Allah juga kami akan teruskan pergaulan perkawinan ini,” ujar Haji Agus Salim.
Prof. Dr. Hamka dalam ceramahnya di Taman Ismail Marzuki (TIM) Cikini Jakarta tahun 1979 mengenang 25 Tahun Wafatnya Haji Agus Salim, mengungkapkan mantan Menteri Luar Negeri itu memasang kaligrafi ayat 39 surat Al-Kahfi di dinding rumahnya, terjemahan ayatnya, “Alangkah baiknya jika engkau masuk ke dalam surgamu engkau katakan Masya Allah, tidak ada kekuatan kecuali pada Allah.”
Haji Agus Salim, seperti dituturkan Buya Hamka, menafsirkan surga yang dimaksud di sini, dalam ayat Al-Quran itu, ialah rumah tangga yang berbahagia. Pelajaran kehidupan dari Haji Agus Salim bahwa sekali-kali jangan melupakan Allah, hidup bertauhid dan bertawakal. Setiap muslim harus yakin karena imannya bahwa keyakinan agama itulah yang akan memelihara hidup manusia, selamat dalam rumah tangga dan selamat dalam perjuangan hidup.
Keluarga Haji Agus Salim melahirkan anak-anak yang sehat jasmani dan mental-rohani, cinta pada agama dan tanah air. Anak-anak memanggil ayahnya “Paatje” dan ibunya “Maatje”. Salah seorang putranya, Sjauket Salim, gugur dalam Pertempuran Lengkong 25 Januari 1946 dan dimakamkan di TMP Taruna Tangerang.
Haji Agus Salim sekeluarga hidup sederhana dan tempat tinggal berpindah-pindah karena tidak punya rumah milik sendiri. Perabot rumahnya selalu diubah-ubah letaknya untuk penyegaran suasana supaya tidak membosankan. Ketika tidak punya lauk-pauk untuk dimasak karena uang belanja sedang menipis, Haji Agus Salim ikut memasak nasi goreng untuk dinikmati seisi rumah dengan penuh keceriaan.
Suatu ketika hujan lebat atap rumah bocor, ember-ember ditaruh di tempat yang kebocoran, anak-anak diajak membuat perahu kertas lalu mereka asyik bermain perahu. Mereka tak perlu tahu orangtuanya sedang tak punya uang buat memperbaiki atap rumah. Kebahagiaan dan keceriaan terukir dalam jiwa anak-anak Haji Agus Salim seumur hidup mereka.
Dalam bukunya Keterangan Filsafat Tentang Tauhid, Takdir dan Tawakal, Haji Agus Salim menuliskan sebuah falsafah hidup orang beragama, “Jika maksud tercapai, Allah yang punya karunia. Jika tidak tercapai, Allah yang punya kuasa. Ia yang Rahman dan Rahim.”
Buya Hamka mengungkapkan pelajaran lainnya dari sosok Haji Agus Salim yang dikenalnya dari dekat bahwa tauhid dan tawakal sudah menjadi pandangan hidup yang mendalam bagi beliau, baik di waktu miskin ataupun di waktu tanah air yang dicintainya sudah mencapai kemerdekaan, dan ia duduk di tempat yang layak. Ketika di zaman kolonial kelihatan kesederhanaan hidup dalam rumah tangga, kasih sayang yang sangat mesra kepada seluruh anak-anak, kecintaan dan kesetiaan daripada Maatje (istrinya). Hatinya selalu besar, muka selalu jernih. Selalu percaya bahwa pertolongan Allah pasti datang.
Keteladanan hidup yang mengesankan dari Haji Agus Salim ialah tidak tampak kesuraman di saat miskin dan tidak ada kesombongan atau lupa daratan setelah hidup mapan di hari tuanya. Haji Agus Salim pernah menyatakan sangat bersyukur kepada Allah Yang Maha Pemurah dan Pengasih bahwa ia mengalami Republik Indonesia yang merdeka dan berdaulat.
Haji Agus Salim berpulang ke rahmatullah pada 4 November 1954 di RSUP Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta dan dimakamkan dengan upacara kenegaraan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, dihadiri oleh Wakil Presiden Mohammad Hatta dan disaksikan oleh puluhan ribu rakyat. Haji Agus Salim tutup usia satu bulan setelah memperingati ulang tahun ke-70.
Presiden Soekarno pada 27 Desember 1961 menganugerahkan gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional kepada almarhum Haji Agus Salim. Pemerintah DKI Jakarta mengabadikan nama H. Agus Salim sebagai nama jalan raya di depan rumah tempat tinggal yang dikontrak almarhum semasa hidupnya di daerah Menteng (kini Jl. H. Agus Salim No 72). Setelah beliau wafat, anak-anaknya secara patungan membeli rumah kediaman terakhir Haji Agus Salim sebagai kenangan jejak kehidupan orangtua mereka.
Pada 12 Agustus 1992, Presiden Soeharto menganugerahkan tanda kehormatan Bintang Republik Indonesia Utama kepada almarhum Haji Agus Salim sebagai tokoh perancang Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.
Salah seorang cucunya, Maryam B. Subadio, dalam wawancara Majalah Intisari No 13, Desember 1974, dimuat dalam buku Seratus Tahun Haji Agus Salim (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1996) menuturkan, “Opa (maksudnya Haji Agus Salim, pen) tidak meninggalkan warisan berupa harta. Namun beliau meninggalkan warisan yang lebih berharga, yaitu nama baiknya sebagai orang yang pandai dan jujur.” []
Fuad Nasar, Ketua II BP4 Pusat, Direktur Jaminan Produk Halal, Kementerian Agama.
