5 Cahaya Pasca Ramadan: Menjaga Api yang Tak Boleh Padam
Jakarta– Ramadan telah pergi. Masjid tak lagi seramai kemarin. Tilawah tak seintens dulu. Malam pun kembali sunyi. Tiada lagi orang lalu lalang menuju masjid untuk I’tikaf. Pertanyaannya sederhana, apakah cahaya itu ikut padam? Atau justru di sinilah ia diuji, apakah ia benar-benar hidup di dalam hati?
Seorang ulama sufi abad ketiga Hijriyyah, Ibrahim Al Khawwas, pernah memberikan nasihat yang terasa sederhana, tetapi dalam maknanya. Ia tidak berbicara tentang amalan yang berat. Tidak pula sesuatu yang sulit dijangkau. Ia hanya menyebut lima hal. Lima cahaya, yang jika dijaga, akan membuat hati tetap terang, bahkan setelah Ramadan berlalu.
Kisah-kisah orang saleh sering kali menunjukkan satu pola yang sama, mereka menjaga kebiasaan baik (istiqamah). Sebab hati manusia itu mudah terwarnai. Tanpa terasa, kita mengikuti arah orang-orang di sekitar kita. Maka, bergaul dengan orang saleh bukan sekadar pilihan sosial, tapi kebutuhan spiritual. Rasulullah saw mengingatkan, “Seseorang tergantung agama teman dekatnya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Dalam hadis lain, beliau mengibaratkan teman baik seperti penjual minyak wangi, kita bisa ikut harum walau tidak membeli. Dari sini, kita belajar bahwa keluarga yang ingin tetap hangat imannya, perlu menghadirkan lingkungan yang baik, baik dalam pergaulan nyata maupun ruang digitalnya.
Dari lingkungan, cahaya itu mengalir ke rumah. Dan salah satu yang paling terasa adalah Al-Qur’an. Ramadan membuat kita akrab dengannya. Tetapi selepas itu, mushaf sering kembali tertutup. Padahal Al-Qur’an bukan sekadar bacaan musiman. Ia adalah petunjuk hidup. Allah berfirman, “Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk ke jalan yang paling lurus.” (QS. Al-Isra: 9).
Membaca Al-Qur’an bukan soal banyaknya halaman, tapi tentang menjaga hubungan. Satu halaman yang dibaca dengan hati… lebih bermakna daripada banyak tanpa kehadiran jiwa. Bayangkan sebuah keluarga yang setiap harinya dihidupkan oleh ayat-ayat Allah. Bukan hanya rumahnya yang terasa tenang, tapi juga cara berpikir dan bersikap penghuninya.
Namun cahaya tidak hanya datang dari siang. Ia justru sering lahir dari malam. Saat semua terlelap, ada jiwa-jiwa yang bangun untuk mengetuk pintu langit. Qiyamul lail bukan sekadar ibadah tambahan. Ia adalah ruang paling jujur antara hamba dan Tuhannya. Allah berfirman, “Dan pada sebagian malam, bangunlah untuk shalat tahajud…” (QS. Al-Isra: 79).
Rasulullah saw menegaskan, “Sebaik-baik shalat setelah yang wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim). Di situlah doa menjadi lebih tulus, air mata jatuh tanpa beban, dan hati menemukan kembali arah pulangnya. Tidak harus panjang. Tidak harus setiap malam. Tapi jika satu anggota keluarga istiqamah melakukannya, sering kali keberkahan merembes kepada seluruh rumah.
Menariknya, waktu malam itu tidak berhenti pada tahajud. Ada satu waktu yang sering kita kenal hanya saat Ramadan: sahur. Padahal hakikatnya, sahur adalah waktu emas sepanjang tahun. Allah memuji hamba-hamba-Nya yang “memohon ampun di waktu sahur” (QS. Adz-Dzariyat: 18). Di sepertiga malam terakhir, pintu langit seakan terbuka lebar.
Rasulullah saw bersabda bahwa Allah memanggil hamba-Nya: siapa yang meminta, akan diberi; siapa yang memohon ampun, akan diampuni (HR. Bukhari dan Muslim). Maka, keluarga yang membiasakan bangun sebelum Subuh, meski hanya beberapa menit, sebenarnya sedang mengetuk pintu keberkahan yang luar biasa.
Lalu, cahaya terakhir mungkin terasa paling sunyi, tapi paling dalam: mengingat kematian. Zikrul maut. Rasulullah saw bersabda, “Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan (kematian).” (HR. Tirmidzi). Ini bukan ajakan untuk menjadi murung. Justru sebaliknya. Ia membuat hidup menjadi lebih jernih.
Kita jadi tahu mana yang penting dan mana yang hanya sementara. Allah mengingatkan, “Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185). Ada sebuah kisah sederhana. Seorang ayah berkata kepada anaknya, “Nak, kita ini hanya musafir. Jangan terlalu sibuk menghias tempat singgah.” Kalimat itu ringan, tapi mampu menggugah arah hidup seseorang.
Pada akhirnya, Ramadan itu seperti hujan. Ia menyuburkan. Ia membersihkan. Tapi setelah hujan berhenti, tanah bisa kembali kering, jika tidak dijaga. Maka lima pesan ini bukan sekadar nasihat, tetapi cara merawat kesuburan hati.
Pertama, bergaul dengan orang saleh agar iman tetap hidup. Kedua, membaca Al-Qur’an agar hati tetap terarah. Ketiga, bangun di malam hari agar jiwa tetap kuat. Keempat, mnghidupkan waktu sahur agar doa tetap mengalir. Kelima, mengingat kematian agar hidup tetap bermakna.
Jika lima ini dijaga, maka Ramadan tidak benar-benar pergi. Ia tinggal. Menetap dalam diri. Mengalir dalam keluarga. Dan dari keluarga yang hatinya terang, akan lahir kehidupan yang penuh Cahaya. []
