Posisi Anak Kedua: Antara Mitos, Psikologi, dan Nilai Islam
Jakarta— Tidak sedikit di masyarakat alasan perceraian keluarga justru bersumber dari anak. Apakah salah satu orang tuanya yang terlalu kasar lalu menimbulkan perselisihan dengan pasangannya. Ada pula pola pengasuhan pihak ketiga, seperti kakek dan nenek yang memanjakan cucunya juga bisa menimbulkan cekcok keluarga yang bisa menjadi sebab pasangan ingin berbecerai.
Di sisi lain, dalam banyak keluarga, posisi anak sering kali diberi “label” tertentu. Anak sulung dianggap pemimpin, anak bungsu disebut manja, dan anak kedua, menariknya, kerap berada di antara pujian dan prasangka. Ada yang menyebutnya “anak paling beruntung”, apalagi jika lahir melengkapi jenis kelamin kakaknya. Namun, tak sedikit pula yang menilai anak kedua cenderung kurang tangguh, mudah cemburu, atau mencari perhatian.
Lalu, bagaimana sebenarnya posisi “anak kedua” jika dilihat dari perspektif psikologi dan Islam? Dalam budaya masyarakat, kehadiran anak kedua sering dianggap sebagai penyempurna keluarga. Ketika pasangan dikaruniai anak laki-laki dan perempuan, muncul rasa “lengkap”, sebuah kebahagiaan psikologis yang memberi ketenangan bagi orang tua. Dalam konteks ini, anak kedua sering dianggap membawa “keberuntungan”.
Namun di sisi lain, muncul pula stereotip negatif. Anak kedua kadang dipersepsikan kurang mendapat perhatian dibanding anak pertama, lebih kompetitif atau cemburu, cenderung manja atau mencari perhatian, tidak setangguh anak sulung, dan lain-lain. Pandangan ini tidak sepenuhnya benar, tetapi muncul karena dinamika posisi “di tengah” yang unik.
Dalam psikologi, posisi anak dalam keluarga dikenal melalui teori birth order yang dipopulerkan oleh Alfred Adler. Adler menekankan bahwa urutan kelahiran memengaruhi perkembangan kepribadian anak, meskipun bukan satu-satunya faktor.
Karakter Umum Anak Kedua (Middle Child)
Berdasarkan penelitian dalam psikologi perkembangan (Adler, serta studi lanjut oleh Frank J. Sulloway dalam Born to Rebel, 1996), anak kedua cenderung memiliki karakter: pertama adaptif dan fleksibel. Mereka terbiasa “menyesuaikan diri” karena tidak memiliki posisi dominan seperti anak pertama atau perhatian penuh seperti anak bungsu. Kedua, kompetitif dan termotivasi. Anak kedua sering tumbuh dengan dorongan untuk “mengejar” kakaknya, sehingga memiliki daya juang tinggi.
Ketiga, pandai bernegosiasi dan social. Karena berada di tengah, mereka belajar menjadi penengah dan memiliki kecerdasan sosial yang baik. Keempat, perpotensi merasa terabaikan (middle child syndrome). Dalam beberapa kasus, anak kedua merasa kurang diperhatikan, terutama jika orang tua tidak adil dalam distribusi perhatian.
Namun, satu hal yang kurang mendapat perhatian banyak orang seperti anak pertama atau dimanja seperti anak terakhir, mereka (anak kedua) sering belajar mandiri secara alami. Penelitian modern juga menunjukkan bahwa faktor pola asuh jauh lebih menentukan dibanding urutan kelahiran semata (Judith Rich Harris, The Nurture Assumption, 1998).
Islam: Anak sebagai Amanah
Dalam Islam, pembahasan tentang anak tidak dikaitkan dengan urutan kelahiran, melainkan dengan nilai amanah dan tanggung jawab.
Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (fitnah)…” (QS. At-Taghabun: 15). Ayat ini menegaskan bahwa anak, baik pertama, kedua, atau seterusnya, adalah ujian. Mereka bisa menjadi sumber kebahagiaan sekaligus ujian keimanan.
Islam juga menekankan pentingnya orang tua berbuat adil sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis Nabi: “Bertakwalah kepada Allah dan berlaku adillah terhadap anak-anakmu.” (HR. Bukhari dan Muslim). Artinya, tidak boleh ada perlakuan yang membedakan anak berdasarkan posisi lahir, jenis kelamin, atau kedekatan emosional.
Hal yang perlu mendapat perhatian, bahwa dalam realitas kehidupan, anak memang seperti pisau bermata dua. Mereka bisa menjadi sumber kebanggaan dan kebahagiaan yang mampu mengangkat derajat sosial dan spiritual orang tua. Namun juga bisa menjadi sumber konflik, kesedihan, bahkan fitnah. Tidak sedikit orang tua yang justru terjebak dalam sikap berlebihan terhadap anak, membanggakan secara berlebihan, atau bahkan bertengkar karena urusan anak.
Pelajaran dari Kisah Al-Qur’an
Al-Qur’an memberikan gambaran sangat kuat tentang spektrum karakter anak.
- Kan’an: Anak Nabi Nuh yang Membangkang
Kisah anak Kan’an menjadi pelajaran bahwa status keluarga tidak menjamin kualitas iman. Meski anak seorang nabi, ia menolak kebenaran dan akhirnya binasa dalam banjir besar.
- Ismail: Anak yang Taat dan Mengagumkan
Sebaliknya, Ismail adalah teladan ketaatan. Ketika diperintahkan untuk disembelih oleh ayahnya, Ibrahim, ia justru menunjukkan kepasrahan total kepada Allah.
- Yusuf: Korban Kecemburuan Saudara
Kisah Yusuf juga relevan dalam konteks hubungan antar saudara. Ia menjadi korban kecemburuan saudara-saudaranya, sebuah refleksi nyata bahwa kecemburuan dalam keluarga bisa terjadi jika tidak dikelola dengan adil.
Berdasarkan ulasan tersebut, dari perspektif psikologi dan Islam, satu hal menjadi jelas bahwa yang menentukan bukan posisi anak, tetapi pola asuh dan nilai yang ditanamkan. Anak kedua bukan “lebih beruntung” atau “lebih bermasalah”. Mereka hanya memiliki tantangan perkembangan yang berbeda.
Jika orang tua adil dalam kasih sayang, memberi ruang tumbuh yang seimbang, tidak membanding-bandingkan anak, menanamkan nilai iman dan akhlak, maka setiap anak, baik pertama, kedua, maupun terakhir, dapat tumbuh menjadi pribadi unggul.
Pada akhirnya, label “anak kedua” hanyalah konstruksi sosial. Dalam kacamata ilmu dan agama, setiap anak adalah individu unik dengan potensi besar. Tugas orang tua bukan memberi label, tetapi membimbing. Bukan membandingkan, tetapi menguatkan. Karena di tangan keluarga yang bijak, setiap anak, apa pun urutannya, dapat menjadi sumber kebahagiaan dunia dan akhirat. []
