Memahami Dampak Emotional Blackmail dalam Hubungan Keluarga
Jakarta– Sering kita mendengar ada orang yang takut pulang ke rumah. Ada pula anak yang tetiba pergi dari rumah dengan meninggalkan pesan yang menyayat hati. Ada pula seorang istri yang divonis sakit jantung, padahal kesehariannya nampak segar, sehat, dan ceria. Fenomena itu ternyata ada masalah emosional yang tertekan, sehingga memunculkan beragam perilaku atau keadaan yang menyedihkan.
Kita semua harus paham bahwa keluarga seharusnya menjadi ruang paling aman. Tempat pulang. Tempat kita diterima tanpa syarat. Temoat tumbuhnya cinta dan suasana nyaman. Namun dalam realitasnya, tidak semua relasi keluarga berjalan sehat. Ada yang tampak baik di permukaan, tetapi menyimpan tekanan emosional yang halus, bahkan sering tidak disadari. Salah satunya adalah emotional blackmail.
Mari kita pahami pelan-pelan, dengan bahasa yang ringan, agar kita bisa mengenalinya dengan baik dan mampu melepaskan diri darinya.
Pengertian Emotional Blackmail
Emotional blackmail adalah bentuk manipulasi emosional. Seseorang menggunakan rasa bersalah, takut, atau kewajiban untuk mengendalikan orang lain. Istilah ini dipopulerkan oleh Susan Forward, seorang terapis asal Amerika yang menulis sebuah buku laris berjudul: Emotional Blackmail: When the People in Your Life Use Fear, Obligation, and Guilt to Manipulate You (1997).
Dalam buku tersebut diungkapkan perilaku-perikau “pemerasan emosional” yang sering terjadi dalam kehidupan Masyarakat. Pelaku, menurutnya, biasanya berkata secara implisit: “Kalau kamu benar-benar sayang, kamu pasti akan melakukan ini.” Sekilas terdengar seperti kasih sayang. Tapi sesungguhnya itu adalah tekanan. Dalam keluarga, ini biasa terjadi antara orang tua dan anak, suami dan istri, bahkan antar saudara. Hubungan yang dekat justru membuat praktik ini lebih mudah terjadi, karena ada ikatan emosi yang kuat.
Emotional blackmail tidak selalu kasar. Justru sering hadir dalam bentuk yang halus. Beberapa contoh yang sering terjadi, seperti menggunakan rasa bersalah: “Ibu sudah berkorban banyak untuk kamu, masa kamu tidak menuruti keinginan ibu?”. Bisa juga dalam bentuk ancaman emosional seperti: “Kalau kamu tetap seperti ini, ayah kecewa dan tidak akan bicara lagi.” Bentuk lain dalam bentuk playing victim (berperan sebagai korban) seperti: “Ya sudah, memang aku tidak pernah dianggap dalam keluarga ini.”
Dalam bentuk lain, Emotiobal blackmail berupa perbandingan dengan orang lain, seperti: “Lihat kakakmu, dia selalu menurut. Kenapa kamu tidak bisa?”. Atau bisa juga dalam nuasa menarik kasih sayang, seperti: mendiamkan, menjauh, atau bersikap dingin saat keinginan tidak dipenuhi.
Berdasarkan contoh-contoh tersebut dapat membuat seseorang merasa tertekan, tetapi sulit menolak karena dibungkus dengan hubungan emosional dalam keluarga. Namun demikian, fakta-fakta tersebut sering kurang disadari oleh anggota keluarga, baik dari orang tua atau anak, serta anggota keluarga lainnya. Banyak orang hidup bertahun-tahun dalam emotional blackmail tanpa disadari dan bisa berdampak buruk.
Ada beberapa alasan kenapa hal tersebut terjadi. Pertama, karena dibungkus cinta. Kita diajarkan untuk berbakti, menghormati, dan menjaga perasaan keluarga. Ini nilai yang baik. Tapi kadang dimanfaatkan secara tidak sehat. Apalagi di lingkungan Masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan agama.
Kedua, adanya budaya “tidak enakan”. Dalam banyak keluarga, terutama di budaya Timur, menolak dianggap tidak sopan. Malah menolak sering ditutup-tutupi dengan bahasa halus, misalnya jawaban “insyaAllah” yang sering disamoaikan untuk menolak secara halus.
Ketiga, takut terjadi konflik. Banyak orang memilih diam daripada menghadapi ketegangan. Orang Timur dengan sopan santun yang dominan sering menghindari konflik sekecil apapun, apalagi dalam ranah keluarga. Keempat, adanya kebiasaan tersebut sudah tersebntuk polanya sejak kecil. Jika sejak kecil terbiasa ditekan secara emosional, kita menganggap itu normal. Padahal, hubungan yang sehat tidak dibangun di atas rasa takut atau rasa bersalah.
Tips Terhindar dari Emotional Blackmail
Melepaskan diri bukan berarti melawan atau memutus hubungan. Tapi menata ulang batasan dengan sehat. Beberapa langkah yang bisa dilakukan:
- Sadari polanya. Langkah pertama adalah menyadari: “Ini bukan komunikasi yang sehat.”
- Bedakan antara cinta dan manipulasi. Cinta memberi ruang. Manipulasi menekan.
- Belajar berkata “tidak” dengan tenang dan tentu saja sopan. Tidak perlu marah. Cukup tegas dan jelas, misalnya “saya memahami keinginan itu, tapi saya belum bisa melakukannya.”
- Jangan larut dalam rasa bersalah berlebihan. Rasa bersalah sering menjadi “alat utama” dalam emotional blackmail.
- Bangun batasan (boundaries). Batasan bukan berarti tidak hormat. Justru itu bentuk menjaga hubungan agar tetap sehat.
- Cari dukungan. Bisa dari pasangan, sahabat, atau bahkan profesional jika diperlukan.
Bagaimana Islam Memandang?
Dalam Islam, hubungan keluarga sangat dijunjung tinggi. Namun, Islam juga menekankan keadilan dan keseimbangan. Al-Qur’an mengajarkan: “Dan jika keduanya (orang tua) memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak memiliki ilmu tentang itu, maka janganlah engkau taati keduanya, tetapi pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman: 15).
Ayat ini sangat dalam maknanya. Artinya tidak semua permintaan harus ditaati Bahkan kepada orang tua sekalipun, jika bertentangan dengan kebaikan Namun tetap harus dengan cara yang santun. Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad saw juga menegaskan: “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam kemaksiatan kepada Khaliq.”
Secara nilai, emotional blackmail bertentangan dengan prinsip Islam karena mengandung unsur pemaksaan, menghilangkan keikhlasan, berpotensi menimbulkan kezaliman emosional, Islam mengajarkan hubungan berbasis kasih sayang (rahmah), saling menghormati, komunikasi yang jujur, bukan tekanan atau manipulasi.
Jadi, emotional blackmail dalam keluarga sering tidak terlihat. Ia tidak meninggalkan luka fisik, tetapi bisa menggores batin dalam jangka panjang. Menyadarinya bukan berarti kita menjadi anak durhaka, pasangan yang melawan, atau anggota keluarga yang egois.
Justru sebaliknya. Kita sedang belajar membangun hubungan yang lebih sehat. Lebih jujur. Lebih tulus. Karena keluarga yang kuat bukan yang penuh tekanan, melainkan yang memberi ruang untuk tumbuh bersama. (thobib)
