Bulan Syawal Menikah, Ini Tips Menjaga Keharmonisan Bagi Pengantin Baru
Jakarta— “Ikan bawal diasinin, bulan Syawal dikawinin”. Pantun ringan khas Betawi ini mungkin terdengar seperti candaan. Namun di balik kelucuannya, tersimpan realitas sosial yang cukup kuat, banyak pasangan memilih menikah di bulan Syawal.
Fenomena ini ternyata tidak hanya hidup di masyarakat Betawi. Hampir di seluruh Nusantara, ada kecenderungan yang sama. Setelah Ramadan usai, suasana menjadi lebih longgar, hati terasa lebih bersih, dan keluarga besar lebih mudah berkumpul. Maka Syawal hingga menjelang musim haji, yang dalam kalender Islam termasuk bulan-bulan asyhurum ma’lumat (bulan-bulan yang telah dimaklumi), sering dianggap sebagai waktu yang baik untuk memulai kehidupan baru.
Jejak Tradisi dalam Ajaran
Menariknya, tradisi ini tidak berdiri di ruang kosong. Ia memiliki akar dalam ajaran Islam. Dalam sebuah hadis, disebutkan bahwa Nabi Muhammad saw menikahi Aisyah dan membina rumah tangga dengannya pada bulan Syawal.
Dari sini, para ulama memahami bahwa menikah di bulan Syawal bukan hanya boleh, tetapi juga memiliki nilai sunnah, sekaligus menjadi bantahan terhadap anggapan jahiliah yang dulu menganggap bulan tersebut kurang baik untuk pernikahan.
Artinya, budaya dan agama dalam hal ini berjalan beriringan. Tradisi masyarakat menemukan legitimasi dalam ajaran, sementara ajaran menjadi lebih hidup melalui praktik sosial.
Bukan Sekadar Hari Bahagia
Namun, memilih bulan baik saja tidak cukup. Pernikahan bukan sekadar peristiwa sehari, melainkan awal perjalanan panjang yang penuh dinamika. Banyak pasangan yang mampu menggelar pesta meriah, tetapi belum tentu siap menjalani kehidupan setelahnya.
Di sinilah pentingnya persiapan yang lebih mendalam—bukan hanya fisik dan finansial, tetapi juga mental dan spiritual.
Tips Menjaga Ketahanan Keluarga bagi Pengantin Baru
Pertama, menyadari pernikahan sebagai ikatan suci. Pernikahan bukan sekadar memenuhi tuntutan sosial, apalagi karena terpaksa. Ia adalah mitsaqan ghalizha, ikatan yang kokoh. Masuklah ke dalamnya dengan kesadaran penuh bahwa ini adalah jalan hidup, bagian dari ibadah, dan sarana menyempurnakan agama.
Kedua, menikmati masa awal dengan penuh pengertian. Awal pernikahan adalah masa penyesuaian. Di sinilah realitas mulai terlihat. Kebiasaan kecil yang dulu tidak tampak, kini menjadi bagian dari keseharian. Alih-alih terkejut atau kecewa, jadikan ini sebagai proses saling mengenal lebih dalam. Bangun pengertian, bukan tuntutan.
Ketiga, menjalin hubungan baik dengan keluarga pasangan. Pernikahan bukan hanya menyatukan dua individu, tetapi juga dua keluarga. Luangkan waktu untuk menyapa, berkunjung, dan menunjukkan kepedulian. Kehangatan dengan keluarga pasangan akan menjadi penopang kuat dalam perjalanan rumah tangga.
Keempat, menghindari konflik yang tidak perlu. Tidak semua hal harus diperdebatkan. Banyak konflik besar justru berawal dari hal kecil yang dibiarkan membesar. Belajarlah memilih mana yang perlu dibahas, mana yang cukup dilepas.
Kelima, menjaga bahasa dan panggilan. Kata-kata adalah cermin perasaan. Panggilan yang kasar atau label negatif bisa meninggalkan luka yang tidak terlihat. Sebaliknya, ciptakan panggilan-panggilan hangat yang menjadi bahasa cinta di antara kalian.
Keenam, membangun kepercayaan dan merencanakan masa depan. Kepercayaan adalah fondasi. Tanpanya, rumah tangga akan rapuh. Bangun komunikasi terbuka, dan rencanakan masa depan Bersama, tentang keuangan, anak, karier, hingga cita-cita hidup. Lakukan dengan hati yang lapang dan pikiran yang jernih.
Jadi, bulan Syawal hingga Dzulhijjah memang menjadi musim pernikahan. Namun sesungguhnya, yang lebih penting bukan kapan pernikahan itu dilangsungkan, melainkan bagaimana ia dijalani setelahnya. Pernikahan yang kokoh tidak lahir dari pesta yang megah, tetapi dari hati yang siap, niat yang lurus, dan komitmen yang terus dijaga.
Maka, jika Anda termasuk yang akan “dikawinkan atau menikah di bulan Syawal”, jangan hanya sibuk memilih tanggal dan gedung. Siapkan juga diri, hati, dan cara berpikir. Karena pada akhirnya, pernikahan bukan tentang satu hari bahagia, melainkan tentang bagaimana menjaga kebahagiaan itu setiap hari. []
