Mamah Muda (Mahmud), Yuks Waspadai Mommy Wars di Media Sosial
Jakarta — Sekitar tahun 2000-an, dikenal istilah “Mommy Wars” atau perang ibu-ibu (muda). Fenomena itu terbilang “baru” di era milenial dan masih ada di era Gen Z saat ini. Perang ini tentu bukan soal lempar-lemparan peralatan dapur seperti piring, sendok, atau baskom, melainkan perang opini yang terjadi di media sosial dan aplikasi pesan instan melalui grup-grup yang kian marak belakangan ini.
Apa yang diperdebatkan? Ternyata tidak jauh dari urusan domestik, apakah ibu sebaiknya bekerja atau di rumah, bagaimana pola pengasuhan anak, metode pendidikan yang tepat, hingga soal pemberian ASI. Bahkan sudah merambah ke gaya hidup, seperti perempuan berjilbab yang nge-gym dengan baju ketat, gaya hidup di kafe, flexing kekayaan, dll. Belakangan ada mamah muda awardee LPDP yang tinggal di Inggris membanggakan anaknya telah menjadi WNA, dst.
Topik-topik itu tampak sederhana, tetapi bisa menjadi sangat sensitif. Belum lagi kalau soal “cara beragama”. Dari sinilah muncul blok-blok opini dengan para pendukung yang tidak jarang bersikap fanatik. Bahkan, dalam beberapa kasus, perdebatan berkembang layaknya arena politik, ada “pendukung garis keras” yang siap membela pendapatnya mati-matian. Akibatnya, perdebatan di kolom-kolom komentar di medsos berubah menjadi sindiran, bahkan makian yang cenderung kasar.
Jika dilihat dari konteks zaman, perbedaan pendapat di media sosial sebenarnya hal yang wajar. Dahulu, menyampaikan opini membutuhkan akses ke media seperti koran atau majalah, yang tidak semua orang miliki. Kini, siapa pun dapat menyampaikan pandangannya kapan saja. Media sosial dan aplikasi pesan instan telah membuka ruang ekspresi yang sangat luas, cukup dengan satu klik, pendapat bisa tersebar ke banyak orang dalam waktu singkat.
Fenomena Mommy Wars sendiri bukan hanya terjadi di Indonesia. Istilah ini sudah muncul sejak 1986 melalui buku karya Leslie Morgan Steiner berjudul Mommy Wars: Stay-at-Home and Career Moms Face Off on Their Choices, Their Lives, Their Families. Buku tersebut menggambarkan dilema para ibu di Amerika antara memilih berkarier di luar rumah atau fokus mengasuh anak. Dilema ini bukan sekadar memunculkan dua kubu yang berseberangan, tetapi juga menggambarkan pergulatan batin para ibu dalam menghadapi pilihan hidup, idealisme, dan perasaan mereka sendiri.
Seiring perkembangan teknologi informasi, fenomena ini semakin menguat. Kemudahan akses membuat para ibu muda dan juga yang tua dapat memperoleh berbagai informasi dengan cepat. Tema yang dibahas pun semakin beragam, mulai dari pengasuhan anak hingga persoalan rumah tangga lainnya. Namun, derasnya arus informasi juga membawa konsekuensi meningkatnya potensi kesalahpahaman, terutama ketika informasi tidak dipahami secara utuh, melainkan hanya sepotong-sepotong dan dipenuhi emosi.
Akibatnya, perdebatan di media sosial kerap memanas. Satu unggahan bisa memancing beragam tanggapan yang datang silih berganti, membentuk diskusi panjang yang tidak jarang berujung konflik. Kondisi inilah yang berpotensi menumbuhkan permusuhan dan kebencian. Karena itu, Mommy Wars di era media sosial membutuhkan sikap bijak dari setiap penggunanya.
Dalam perspektif Islam, fenomena ini tidak sepenuhnya negatif. Selama masih berada dalam batas yang sehat, seperti berbagi pengalaman, bertukar pandangan, dan saling belajar, maka diskusi di media sosial justru bisa menjadi sarana yang produktif dan bermanfaat. Ia dapat memperkaya wawasan dan membuka sudut pandang baru.
Namun, masalah muncul ketika perdebatan berubah menjadi ajang saling menyerang. Kata-kata kasar, sindiran, bahkan tudingan yang tidak berdasar mulai bermunculan. Dalam kondisi seperti ini, nilai-nilai Islam dengan tegas mengingatkan pentingnya menjaga akhlak. Ketika emosi menguasai dan seseorang merasa paling benar, ia cenderung mudah merendahkan orang lain, bahkan menyebarkan informasi yang belum tentu benar.
Dalam pergaulan, baik di dunia nyata maupun dunia maya, Islam selalu menekankan pentingnya menjaga hati dan pikiran. Akhlak yang baik lahir dari hati yang bersih. Hati yang jernih adalah bekal hidup yang paling berharga. Karena itu, sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa hidup sendiri dan selalu membutuhkan kehadiran orang lain dalam harmoni.
Selain itu, setiap individu juga dituntut untuk pandai menjaga diri dalam berinteraksi. Islam telah memberikan rambu-rambu dalam pergaulan agar manusia terhindar dari konflik dan perpecahan. Pergaulan yang sehat harus dibangun di atas akhlak yang mulia.
Al-Qur’an dengan tegas mengingatkan: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain, boleh jadi mereka lebih baik dari mereka. Dan jangan pula perempuan merendahkan perempuan lain, boleh jadi mereka lebih baik. Janganlah saling mencela dan jangan saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk…” (QS. Al-Hujurat: 11)
Pesan ini sangat relevan dengan fenomena Mommy Wars. Larangan untuk saling mengejek, menyindir, dan merendahkan orang lain menjadi pengingat bahwa perbedaan pendapat tidak boleh menghilangkan adab. Namun, realitas di lapangan sering kali menunjukkan sebaliknya. Banyak yang mudah tersulut emosi oleh hal-hal sepele, sehingga linimasa media sosial dipenuhi ujaran yang tidak pantas. Hal serupa juga terjadi di grup-grup percakapan seperti WhatsApp atau Line, yang tak kalah ramainya dalam memunculkan perdebatan.
Pada akhirnya, Mommy Wars adalah cermin dari dinamika sosial di era digital. Ia bisa menjadi ruang belajar yang memperkaya, tetapi juga bisa berubah menjadi arena konflik yang merusak. Kuncinya terletak pada bagaimana setiap individu mengelola emosi, menjaga adab, dan menggunakan media sosial secara bijak. []
Ditulis ulang dan diadaptasi dari buku: Fikih Gaul #2 Era Milenial (Be a Cool and Moderate Muslim, 2019) yang ditulis Thobib Al Asyhar.
