Serakahnomic: Ketika Manusia Dikuasai Nafsu yang Tak Pernah Cukup
Jakarta— Istilah yang pernah muncul beberapa waktu lalu “Serakahnomic” terasa menampar kesadaran kita. Ia bukan sekadar istilah ekonomi, melainkan cermin cara berpikir yang dibangun di atas kerakusan, sebuah pola yang menghalalkan segala cara demi keuntungan, tanpa peduli siapa yang harus menanggung akibatnya.
Sikap dan perilaku seralah jika terjadi dalam sebuah rumah tangga tentu akan menjadi ancaman yang serius. Ukurannya adalah hawa nafsu melalui keinginan, bukan kebutuhan. Hal ini bisa menimbulkan konflik yang berkepanjangan, khususnya terkakit dengan masalah ekonomi atau harta. Banyak rumat tangga akhirnya retak karena masalah keserakahan yang tak bertepi, dan akhirnya berujung perceraian di pengadilan.
Tentu, serakah tidak hanya urusan ekonomi semata. Ia menyusup ke seluruh sendi kehidupan manusia. Bahkan, bisa dikatakan tidak ada makhluk yang lebih serakah dibanding manusia. Binatang mungkin tampak rakus, tetapi mereka berhenti pada batas kebutuhan. Manusia, sebaliknya, mampu memperpanjang keinginan tanpa ujung, melampaui apa yang sebenarnya ia perlukan.
Keserakahan itu hadir dalam berbagai tanda yang nyata. Pertama, kecenderungan mengambil lebih dari yang dibutuhkan. Ini bukan sekadar soal konsumsi berlebihan, tetapi tentang dorongan menimbun harta, kekuasaan, dan sumber daya. Gambaran sederhananya seperti seekor monyet yang mulutnya sudah penuh, namun kedua tangannya masih ingin merebut milik yang lain. Dalam realitas manusia, ini menjelma dalam praktik akumulasi tanpa batas dan keengganan untuk berbagi.
Kedua, ketidakmampuan untuk merasa cukup. Ada ironi yang sering terjadi saat kekurangan, seseorang justru terbiasa hidup sederhana. Namun ketika kelapangan datang, rasa cukup itu menghilang. Target demi target terus dikejar, seolah hidup adalah perlombaan tanpa garis akhir. Hasrat melaju lebih cepat daripada kebutuhan.
Sejarah memberi pelajaran yang jernih. Kisah Qarun pada masa Nabi Musa menggambarkan bagaimana kekayaan dapat mengubah seseorang menjadi sombong dan lupa diri. Begitu pula Tsa’labah, salah seorang sahabat Nabi, yang berubah setelah diberi kelapangan rezeki pasca di doakan Rasulullah saw. Keduanya menjadi pengingat bahwa harta bukan hanya anugerah, tetapi juga ujian yang mengungkap watak sejati manusia.
Ketiga, kesediaan mengorbankan orang lain dan lingkungan. Pada titik ini, keserakahan berubah menjadi ancaman. Hutan ditebang tanpa kendali, bumi dieksploitasi tanpa batas, dan keseimbangan alam dikorbankan demi keuntungan jangka pendek. Kerusakan yang terjadi bukan sekadar kesalahan kebijakan, tetapi refleksi dari nafsu yang tidak terkendali.
Keempat, hilangnya keseimbangan. Serakah membuat manusia abai terhadap harmoni sosial dan ekologis. Dari sinilah lahir ketimpangan, ketidakadilan, dan penyalahgunaan kekuasaan. Ketika kepentingan pribadi menjadi pusat segalanya, sistem pun kehilangan arah.
Kelima, kemampuan membalikkan moral demi pembenaran diri. Inilah wajah paling halus dari keserakahan. Ia tidak selalu hadir secara kasar, tetapi sering bersembunyi di balik narasi yang terdengar mulia: “demi pembangunan”, “demi kepentingan bersama”, atau “demi kesejahteraan”. Kata-kata indah itu kerap menjadi tirai yang menutupi ambisi pribadi.
Pada akhirnya, persoalannya kembali kepada manusia itu sendiri. Dalam ajaran Islam, manusia yang dikuasai hawa nafsu dapat jatuh lebih rendah daripada binatang. Bukan karena ia tidak memiliki akal, tetapi karena ia memilih untuk tidak menggunakannya.
Di sinilah pentingnya kesadaran diri. Mengendalikan keinginan, menjaga keseimbangan, dan menahan diri dari kerakusan bukan hanya persoalan moral, tetapi juga kebutuhan untuk menjaga kehidupan tetap harmonis.
Sebab musuh terbesar manusia bukanlah yang datang dari luar. Ia bersemayam di dalam diri, dalam bentuk nafsu yang tak pernah merasa cukup. Dan ketika nafsu itu dibiarkan berkuasa, manusia perlahan kehilangan arah, bahkan kehilangan kemanusiaannya sendiri. [] (thobib)
