Rajin Sholat, Tapi Perilaku Tak Berubah, Di Mana Letak Masalahnya?
Jakarta — Pertanyaan ini bukan hal baru. Dalam sebuah tayangan televisi nasional, seorang seniman terkemuka pernah bertanya kepada seorang ustaz: “Mengapa banyak orang rajin sholat, tetapi korupsi tetap berjalan? Mengapa ibadah tampak subur, tetapi akhlak tak ikut tumbuh?” Pertanyaan itu sederhana, tetapi menghunjam kesadaran kita bersama.
Fenomena ini nyata di tengah masyarakat. Kita menyaksikan tidak sedikit orang yang tampak saleh dalam ruang-ruang ibadah, tetapi sikapnya di ruang sosial justru bertolak belakang. Di masjid ia lembut, di kantor ia keras. Di hadapan Tuhan ia tunduk, tetapi kepada sesama ia abai. Di sinilah muncul kegelisahan: mengapa kesalehan ritual tidak selalu berbanding lurus dengan kesalehan sosial?
Keterpecahan Kepribadian Beragama
Dalam bahasa psikologi modern, kondisi ini kerap disebut sebagai split personality, keterpecahan kepribadian. Seseorang bisa tampil sangat religius dalam konteks tertentu, tetapi kehilangan nilai-nilai itu ketika berhadapan dengan realitas dunia.
Padahal dalam Islam, tidak ada dikotomi antara ibadah dan kehidupan. Sholat bukan sekedar ritual privat, melainkan fondasi moral publik. Apa yang dibangun dalam sholat seharusnya memancar dalam perilaku sehari-hari. Allah Swt. menegaskan: “Sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45).
Ayat tersebut bukan sekedar pernyataan normatif, tetapi janji sekaligus ukuran. Jika sholat belum mampu mencegah kemungkaran, maka ada yang belum selesai dalam cara kita menunaikannya.
Cara Beragama yang Salah
Fenomena orang yang salah menjalankan ajaran agama tidak bisa disimpulkan sebagai kegagalan agama, melainkan kegagalan dalam menghayati agama. Agama menjadi “tidak berfungsi” bukan karena ajarannya lemah, tetapi karena internalisasi nilai yang tidak terjadi secara utuh.
Kekecewaan terhadap perilaku pemeluk agama bahkan sudah lama muncul dalam sejarah. Filsuf Barat seperti Friedrich Nietzsche pernah melontarkan ungkapan terkenal, “God is dead.” Pernyataan ini bukan serangan langsung terhadap Tuhan, melainkan kritik terhadap manusia yang mengaku beragama tetapi kehilangan ruh ketuhanan dalam perilakunya.
Ketika agama hanya berhenti pada simbol dan formalitas, ia kehilangan daya transformasinya. Padahal Islam hadir untuk memuliakan manusia, bukan sekedar mengatur gerakan tubuh dalam ritual.
Sholat Sebagai Media Transformasi
Penting untuk dipahami, bukan sholatnya yang salah, tetapi cara kita menjalankannya. Sholat adalah media transformasi jiwa. Ia dirancang untuk membentuk manusia yang lebih jujur, rendah hati, dan berintegritas. Namun, media ini hanya efektif jika digunakan dengan benar.
Dalam tradisi ulama, disebutkan bahwa sholat memiliki dua dimensi hak:
1. Hak Dzahiriyyah (Lahiriah). Ini berkaitan dengan aspek teknis: syarat, rukun, bacaan, dan gerakan yang benar. Hal ini penting, karena tanpa itu sholat tidak sah.
2. Hak Batiniyyah (Batiniah). Inilah inti dari sholat, keikhlasan, kekhusyukan, dan kehadiran hati. Di sinilah transformasi terjadi. Sholat yang hidup akan mengikis penyakit hati seperti: riya (pamer), ujub (bangga diri), takabbur (sombong), hasad (iri), tamak (rakus). Dan menggantinya dengan ikhlas, tawadhu, qana’ah, ridha, serta akhlak mulia lainnya.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menekankan bahwa ruh sholat terletak pada حضور القلب (kehadiran hati). Tanpa itu, sholat hanya menjadi gerakan fisik yang kering makna.
Refleksi dari Ritual ke Moral
Nabi Muhammad saw bersabda: “Sesungguhnya yang pertama kali dihisab dari amal seorang hamba pada hari kiamat adalah sholatnya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Mengapa sholat yang pertama? Karena ia adalah indikator utama kualitas hubungan manusia dengan Tuhan, yang seharusnya berdampak langsung pada hubungan dengan sesama.
Jika sholat benar, maka perilakunya akan lurus. Jika perilaku masih bengkok, maka sholat perlu diperbaiki—bukan ditinggalkan, tetapi diperdalam.
Akhirnya, sholat bukan sekedar kewajiban yang ditunaikan lima kali sehari. Ia adalah proses pembentukan karakter yang terus-menerus. Ia mendidik jiwa untuk jujur, sabar, dan bertanggung jawab.
Maka, ketika kita melihat orang rajin sholat tetapi akhlaknya belum berubah, jangan buru-buru menyalahkan agama. Yang perlu dibenahi adalah cara beragama, bagaimana sholat itu dihayati, bukan sekadar dilakukan.
Karena pada akhirnya, sholat yang sejati bukan hanya yang didirikan di atas sajadah, tetapi yang hidup dalam setiap langkah kehidupan. [] (Thobib).
