Banyak Orang Takut Menikah, Apa Solusi Islam?
Belakangan ini banyak orang memilih menunda pernikahan. Bahkan, ada yang mengatakan tidak ingin menikah sama sekali. Menikah dianggap ribet, mahal, dan penuh risiko. Fenomena ini bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara.
Jepang, misalnya, mengalami penurunan angka pernikahan dalam beberapa dekade terakhir. Pada 2020, angka pernikahan di negara itu hanya sekitar 4,3 per 1.000 penduduk. Pada tahun yang sama, hampir 3 dari 10 laki-laki dan hampir 2 dari 10 perempuan Jepang berusia 50 tahun belum pernah menikah.
Mengapa semakin banyak orang takut menikah?
Pertama, menikah dianggap ribet dan mahal. Harus punya rumah, pekerjaan tetap, tabungan, pesta yang bagus, dan memenuhi banyak tuntutan keluarga. Akibatnya, orang merasa harus menunggu sampai benar-benar mapan sebelum menikah.
Kedua, takut bercerai. Banyak orang melihat rumah tangga di sekitarnya berakhir dengan perceraian. Di Indonesia, jumlah perceraian mencapai ratusan ribu kasus setiap tahun. Melihat kenyataan itu, sebagian orang berpikir lebih baik tidak menikah daripada harus mengalami perceraian.
Ketiga, terlalu tinggi standar dalam memilih pasangan. Media sosial membuat kita sering melihat pasangan yang tampak sempurna. Akhirnya, kita mencari pasangan yang sempurna juga. Pasangan harus menarik, mapan, romantis, berpendidikan, punya pekerjaan bagus, dan memenuhi banyak kriteria lainnya. Padahal, tidak ada manusia yang sempurna.
Keempat, tidak siap menghadapi kehidupan rumah tangga. Banyak orang mempersiapkan diri untuk sekolah dan pekerjaan, tetapi tidak mempersiapkan diri untuk menjadi suami, istri, dan orang tua. Akibatnya, ketika menikah mereka kaget menghadapi perbedaan, masalah ekonomi, dan konflik.
Kelima, hidup sendiri dianggap lebih nyaman. Dengan penghasilan sendiri, seseorang bisa bebas bekerja, bepergian, menikmati hobi, dan mengatur hidup tanpa harus memikirkan pasangan. Akhirnya muncul pikiran, “Saya sudah nyaman sendiri. Mengapa harus menikah?”
Lalu, bagaimana Islam memberikan solusi?
Pertama, sederhanakan pernikahan. Islam tidak mengajarkan pernikahan sebagai ajang pamer. Jangan sampai pesta, rumah, kendaraan, atau tuntutan sosial membuat orang takut menikah. Menikahlah sesuai kemampuan.
Kedua, pilih pasangan karena agama dan akhlaknya. Jangan hanya mencari pasangan yang cantik, tampan, kaya, atau punya pekerjaan bagus. Nabi mengajarkan pentingnya agama dan akhlak. Sebab, kehidupan rumah tangga lebih membutuhkan pasangan yang baik daripada pasangan yang terlihat sempurna.
Ketiga, jangan menunggu sempurna. Menikah membutuhkan kesiapan, bukan kesempurnaan. Tidak harus memiliki semuanya terlebih dahulu. Yang penting mampu menjalankan tanggung jawab dan mau belajar bersama.
Keempat, belajar menyelesaikan masalah. Perbedaan dan pertengkaran adalah bagian dari kehidupan rumah tangga. Islam mengajarkan sabar, menahan amarah, saling memaafkan, dan mencari jalan damai. Jangan sedikit-sedikit berpikir tentang perpisahan.
Kelima, niatkan menikah sebagai ibadah. Inilah yang paling penting. Menikah bukan hanya untuk mencari kebahagiaan, tetapi juga menjalankan perintah Allah. Ketika suami mencari nafkah, istri mengurus keluarga, keduanya saling menjaga, dan bersama-sama mendidik anak, semua itu dapat menjadi ibadah.
Al-Qur’an menyebut pernikahan sebagai jalan untuk mendapatkan sakinah, serta menghadirkan mawaddah dan rahmah di antara suami dan istri. Jadi, Islam tidak mengatakan bahwa menikah itu selalu mudah. Tetapi Islam mengajarkan bagaimana menghadapi kesulitannya.
