Kamu Harus Tahu, Ini Ciri-ciri Keluarga Sakinah!
Keluarga sakinah bukan berarti keluarga yang tak pernah punya masalah. Tidak ada rumah tangga yang selalu berjalan mulus. Ada perbedaan pendapat, kesalahpahaman, bah kan sesekali pertengkaran.
Yang membedakan adalah cara keluarga menghadapi masalah. Keluarga sakinah dibangun dengan fondasi nilai, cinta, tanggung jawab, dan kesediaan untuk terus belajar menjadi pasangan yang lebih baik.
Lalu, seperti apa ciri-cirinya?
Pertama, berdiri di atas fondasi keimanan yang kokoh. Keluarga bukan sekadar tempat tinggal bersama. Ia adalah tempat tumbuhnya iman. Karena itu, hubungan suami-istri tidak hanya dibangun atas rasa cinta, tetapi juga kesadaran bahwa kehidupan keluarga merupakan amanah dari Allah.
Kedua, menunaikan misi ibadah dalam kehidupan. Bekerja, mencari nafkah, mengurus rumah, mendidik anak, bahkan melayani pasangan dapat menjadi ibadah ketika dilakukan dengan niat yang baik. Rumah tangga pun menjadi ruang untuk mendekat kepada Allah.
Ketiga, menaati ajaran agama.
Agama bukan hanya dibicarakan di masjid atau majelis taklim. Nilai agama harus hadir dalam kehidupan sehari-hari: dalam cara berbicara, mencari nafkah, mendidik anak, menyelesaikan konflik, dan memperlakukan pasangan.
Keempat, saling mencintai dan menyayangi. Cinta tidak cukup hanya diucapkan. Ia perlu dirasakan melalui perhatian, penghargaan, kelembutan, dan kesediaan mendengarkan. Kadang, secangkir kopi yang dibuatkan tanpa diminta lebih bermakna daripada seribu kata cinta.
Kelima, saling menjaga dan menguatkan dalam kebaikan. Pasangan bukan lawan, apalagi beban. Ia adalah teman seperjalanan. Ketika salah satu lemah, yang lain menguatkan. Ketika salah arah, yang lain mengingatkan. Bukan menjatuhkan, tetapi menyelamatkan.
Keenam, saling memberikan yang terbaik untuk pasangan.
Jangan hanya bertanya, “Apa yang sudah diberikan pasangan kepadaku?” Sesekali tanyakan, “Apa yang sudah kuberikan untuk membuat pasangan bahagia?” Rumah tangga yang sehat tumbuh dari dua orang yang sama-sama ingin memberi.
Ketujuh, mengutamakan musyawarah dalam menyelesaikan masalah.
Perbedaan pendapat adalah hal biasa. Yang penting bukan siapa yang menang, tetapi bagaimana masalah menemukan jalan keluar. Musyawarah membuat keputusan terasa lebih adil karena lahir dari keterbukaan dan saling menghargai.
Kedelapan, membagi peran secara adil.
Adil tidak selalu berarti sama rata. Setiap keluarga memiliki kondisi yang berbeda. Yang penting, tidak ada pihak yang merasa sendirian memikul beban. Pekerjaan rumah, pengasuhan, ekonomi, dan tanggung jawab keluarga dibicarakan dan dikerjakan bersama.
Kesembilan, kompak mendidik anak-anak.
Anak membutuhkan ayah dan ibu yang berjalan dalam arah yang sama. Jangan sampai di depan anak, ayah mengatakan “tidak boleh”, sementara ibu mengatakan “boleh”. Kekompakan orang tua memberikan rasa aman sekaligus menjadi teladan bagi anak.
Kesepuluh, memberi manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara. Keluarga sakinah tidak berhenti pada kebahagiaan di dalam rumah. Kebaikan keluarga semestinya mengalir keluar. Keluarga yang baik melahirkan pribadi yang baik; pribadi yang baik membangun masyarakat; masyarakat yang baik ikut memperkuat bangsa.
Pada akhirnya, keluarga sakinah bukan keluarga tanpa masalah, melainkan keluarga yang tahu bagaimana kembali kepada kebaikan setiap kali menghadapi masalah. Rumah tangga adalah perjalanan panjang.
Bukan tentang mencari pasangan yang yg sempurna, tetapi tentang menjadi pasangan yang terus belajar mencintai, memahami, menguatkan, dan bertumbuh bersama. Sebab keluarga yang sakinah bukan dibangun dalam sehari. Ia dirawat setiap hari. []
