Kenapa Banyak Pasangan Muda Cepat Menyerah dalam Pernikahan?
Ada satu hal yang sering kita lihat hari ini. Dua orang saling mencintai. Pacaran cukup lama. Kemudian menikah. Foto pernikahan diunggah ke media sosial. Semua terlihat bahagia.
Tetapi beberapa waktu kemudian, kabar yang muncul justru berbeda, bahwa mereka berpisah.
Tentu, tidak semua perceraian terjadi karena alasan yang sama. Dan tidak adil juga jika kita mengatakan bahwa Gen Z adalah generasi yang tidak tahan berumah tangga. Setiap generasi punya persoalannya sendiri.
Namun, ada perubahan cara pandang terhadap cinta dan pernikahan yang menarik untuk kita renungkan.
Mengapa pasangan muda sekarang terasa lebih mudah menyerah ketika menghadapi masalah rumah tangga?
Pertama, karena banyak orang masuk pernikahan dengan ekspektasi yang terlalu tinggi. Ada perbedaan suasana antara saat pacaran dan saat menikah.
Sebelum menikah, kita sering membayangkan pasangan yang ideal. Dia harus romantis, perhatian, selalu memahami, mapan, sabar, dan selalu ada ketika kita membutuhkan.
Masalahnya, pasangan kita adalah manusia. Ada saat dia lelah. Ada saat dia salah bicara. Ada saat dia tidak memahami perasaan kita. Ada saat kondisi ekonomi sedang sulit. Bahkan ada saat kita sendiri merasa bosan.
Di sinilah masalah dimulai. Kita kadang mengira, kalau pasangan benar-benar mencintai kita, dia akan selalu tahu apa yang kita inginkan.
Padahal, pasangan bukan pembaca pikiran. Kalau ingin dimengerti, belajarlah berbicara. Kalau kecewa, sampaikan. Kalau ada masalah, bicarakan. Jangan berharap pasangan memahami sesuatu yang tidak pernah kita katakan.
Kedua, kita semakin mudah berkomunikasi, tetapi belum tentu semakin pandai berbicara dari hati ke hati. Ada tantangan luar biasa karena faktor teknologi.
Pesan WhatsApp bisa dikirim kapan saja. Video call bisa dilakukan dari mana saja. Tetapi ketika sedang marah, kita justru memilih diam, menghilang, block, atau menumpahkan masalah di media sosial.
Padahal, rumah tangga membutuhkan komunikasi yang lebih dalam. Bukan sebatas tanya basa basi, “Sudah makan?” Tetapi juga, “Kamu sebenarnya sedang merasa apa?”
Bukan hanya, “Kenapa kamu begitu?” Tetapi, “Apa yang bisa saya lakukan supaya kita sama-sama lebih baik?”
Kadang masalah rumah tangga bukan karena tidak ada cinta. Cintanya ada, tetapi cara berkomunikasinya yang tidak ada.
Ketiga, kita hidup dalam budaya “kalau tidak cocok, tinggalkan.” Di dunia digital, hampir semuanya bisa diganti. Ponsel lama diganti dengan yang baru. Pekerjaan tidak cocok, pindah. Lingkungan tidak nyaman, keluar. Hubungan tidak menyenangkan, cari yang lain.
Pola pikir seperti ini bisa terbawa ke dalam pernikahan. Ketika pasangan mulai mengecewakan, muncul pertanyaan, “Kenapa saya harus bertahan?” Bukankah pernikahan memang tidak selalu menyenangkan?
Ada masa ketika kita harus mengalah. Ada masa ketika kita harus bersabar. Ada masa ketika kita harus belajar memahami pasangan meskipun kita sendiri sedang kecewa. Komitmen diuji justru ketika perasaan sedang tidak nyaman.
Tentu, bertahan bukan berarti membiarkan kekerasan, penghinaan, atau hubungan yang membahayakan. Ada persoalan yang memang membutuhkan jalan keluar.
Namun, jangan sampai masalah yang sebenarnya masih bisa dibicarakan langsung dianggap sebagai alasan untuk mengakhiri pernikahan.
Keempat, tekanan ekonomi dan gaya hidup. Media sosial membuat kita setiap hari melihat kehidupan orang lain. Teman membeli rumah. Teman liburan ke luar negeri. Teman membeli mobil baru. Teman makan di restoran mahal. Teman memberikan hadiah kepada pasangan.
Tanpa sadar, kita mulai membandingkan. “Kenapa suamiku tidak seperti dia?” “Kenapa istriku tidak seperti istrinya?”
Padahal yang kita lihat hanya beberapa detik kehidupan orang lain. Kita tidak tahu bagaimana kondisi rumah tangga mereka ketika kamera dimatikan. Dalam tradisi Jawa ada istilah “sawang sinawang” bahwa manusia satu kepada manusia lain saling melihat (yang nampak) yang tidak diketahui hakikatnya.
Karena itu, pasangan muda perlu belajar satu hal penting: Jangan membangun rumah tangga berdasarkan standar kehidupan orang lain. Bangunlah sesuai kemampuan sendiri.
Tidak apa-apa rumah sederhana. Tidak apa-apa belum punya mobil mewah. Tidak apa-apa belum bisa liburan ke luar negeri. Yang penting, jangan sampai mengejar gaya.
Itulah beberap catatan penting bagi keluarga muda. Intinya berkeluarga itu proses panjang selama hidup. Dibutuhkan kemampuan bertahan (survival) agar keluarga yang telah dibangun bisa melahirkan kebahagiaan sejati. (@biebasyhar)
