Tips Praktis Tanamkan Ecological Consciousness dalam Keluarga
Kondisi lingkungan kita sedang tidak baik-baik saja. Banjir, longsor, kebakaran hutan, dan suhu ekstrem hadir hampir setiap hari. Gagal panen pun semakin sering terjadi di berbagai daerah. Semua ini menjadi tanda bahwa alam sedang berada dalam tekanan serius. Laporan Intergovernmental Panel on Climate Change menegaskan bahwa peningkatan suhu global dan krisis iklim saat ini merupakan dampak nyata dari aktivitas manusia yang tidak berkelanjutan (IPCC, 2023).
Puncaknya, kita dikejutkan oleh banjir bandang besar di Aceh dan Sumatra tahun lalu. Peristiwa itu membuka mata banyak orang tentang kondisi alam kita. Kerusakan lingkungan di Nusantara telah mencapai titik yang mengkhawatirkan. Kesadaran publik pun mulai tumbuh, meski belum merata. Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana menunjukkan tren peningkatan bencana hidrometeorologi dalam satu dekade terakhir.
Semua ini tidak lepas dari ulah manusia yang kurang bijak dalam mengelola alam. Hutan dirusak, lahan dibuka secara serampangan, dan sumber daya dieksploitasi tanpa kendali. Alam diperlakukan hanya sebagai objek ekonomi. Akibatnya, keseimbangan ekologis terganggu. Dalam perspektif Political Ecology, eksploitasi ini berkaitan erat dengan model pembangunan yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi semata tanpa mempertimbangkan daya dukung lingkungan (Robbins, 2012).
Jika kondisi ini terus dibiarkan, dampaknya akan semakin luas dan dalam. Bumi bisa menjadi tidak layak huni dalam beberapa dekade ke depan. Kehancuran besar bukan lagi sekadar wacana. Ia bisa menjadi kenyataan yang dihadapi generasi mendatang. United Nations Environment Programme menyebut bahwa degradasi lingkungan dapat mengancam keberlanjutan kehidupan manusia secara global jika tidak segera ditangani (UNEP, 2021).
Sejarah bahkan mencatat kisah tentang negeri-negeri yang hilang akibat bencana besar. Atlantis sering disebut sebagai simbol kehancuran peradaban. Di Nusantara, kisah itu kerap dikaitkan dengan Sundaland. Terlepas dari benar atau tidak, pesan moralnya sangat kuat. Dalam kajian Environmental History, banyak peradaban runtuh akibat kegagalan mengelola lingkungan secara berkelanjutan (Diamond, 2005).
Berbagai kebijakan untuk membangun Ecological Consciousness (kesadaran lingkungan) sebenarnya telah dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat. Lembaga swadaya masyarakat bergerak di bidang lingkungan. Gerakan generasi iklim juga terus tumbuh dan menguat. Upaya kolektif ini patut diapresiasi dan didukung. Studi World Resources Institute menunjukkan bahwa kolaborasi multi-pihak menjadi kunci dalam keberhasilan gerakan lingkungan global.
Namun, satu hal penting sering terlewat dalam gerakan besar tersebut. Perubahan mendasar justru harus dimulai dari keluarga. Keluarga adalah unit sosial paling kecil dalam masyarakat. Dari sanalah nilai dan kebiasaan dibentuk secara nyata. Dalam teori Social Learning Theory yang dikembangkan Albert Bandura, perilaku anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan terdekat, terutama keluarga.
Program ekoteologi yang digagas Kementerian Agama merupakan langkah strategis. Gagasan ini menghubungkan kepedulian lingkungan dengan nilai-nilai keagamaan. Namun, ia tidak boleh berhenti pada tataran konsep. Harus ada praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari. Konsep ini sejalan dengan pendekatan Ecotheology yang berkembang dalam studi agama kontemporer (Hessel & Ruether, 2000).
Dalam peringatan Isra Mi’raj di Masjid Istiqlal tahun 2025, Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan konsep “taubat ekologis”. Ini adalah ajakan untuk kembali sadar secara spiritual dalam menjaga alam. Kesadaran ini perlu diturunkan dalam tindakan konkret. Dan keluarga menjadi ruang paling efektif untuk memulainya.
Pertama, tanamkan kesadaran ekologis sejak dini kepada anak-anak. Masa pertumbuhan adalah fase penting pembentukan karakter. Anak perlu dikenalkan pada pentingnya menjaga lingkungan. Dengan begitu, kepedulian akan tumbuh sebagai kebiasaan. Penelitian dalam Environmental Education menunjukkan bahwa pendidikan sejak usia dini berpengaruh signifikan terhadap perilaku ramah lingkungan di masa dewasa (Palmer, 1998).
Kedua, lakukan aksi kecil yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Kurangi penggunaan plastik dan kelola limbah dengan bijak. Biasakan membuang sampah pada tempatnya. Hindari membeli barang secara berlebihan agar tidak mubazir. Prinsip ini sejalan dengan konsep Sustainable Consumption yang didorong oleh United Nations dalam agenda SDGs.
Ketiga, orang tua harus memberikan keteladanan yang konsisten di rumah. Anak belajar dari apa yang dilihat setiap hari. Ketika orang tua peduli lingkungan, anak akan menirunya. Keteladanan menjadi metode pendidikan paling efektif. Hal ini memperkuat temuan Behavioral Psychology tentang pentingnya modeling dalam pembentukan kebiasaan.
Keempat, budayakan kegiatan menanam di lingkungan rumah. Gunakan lahan sempit atau pot sederhana untuk bercocok tanam. Tanam buah, sayur, atau bunga sesuai kebutuhan. Selain bermanfaat, ini juga mendukung ketahanan pangan keluarga. Konsep ini dikenal dalam Urban Agriculture yang terbukti meningkatkan ketahanan pangan rumah tangga (FAO, 2014).
Kelima, kuatkan pemahaman teologis tentang hubungan manusia dan alam. Manusia adalah khalifah yang memiliki tanggung jawab menjaga bumi. Alam bukan sekadar objek, tetapi bagian dari kehidupan. Kesadaran ini akan melahirkan sikap yang lebih bijak. Dalam perspektif Islamic Environmental Ethics, manusia dipandang sebagai penjaga keseimbangan yang harus dijaga (Foltz, 2003).
Tubuh manusia sendiri tersusun dari unsur-unsur alam seperti air, tanah, api, dan udara. Karena itu, merusak alam sama dengan merusak diri sendiri. Kesadaran ini perlu ditanamkan secara mendalam dalam keluarga. Agar kepedulian lingkungan menjadi bagian dari iman. Pendekatan ini juga diperkuat oleh kajian Holistic Ecology yang melihat keterhubungan antara manusia dan alam sebagai satu kesatuan sistem kehidupan.
Jika lima langkah ini dijalankan secara konsisten, keluarga akan menjadi fondasi gerakan ekoteologi. Gerakan ini tidak berhenti pada wacana, tetapi hadir dalam praktik nyata. Dampaknya akan terasa bagi kehidupan hari ini dan masa depan. Wallahu a’lam. []
Thobib Al Asyhar (Karo Humas dan Komunikasi Publik, Dosen Pascasarjana SPPB Universitas Indonesia)
