Ibu Harus Dampingi Anaknya dalam 5 Waktu, Hikmah Pengasuhan Perspektif Islam
Jakarta — Suasana hangat dan penuh makna mewarnai acara Halal Bihalal dan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Agama RI se-Indonesia yang digelar di Auditorium Harun Nasution, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Rabu (15/4/2026). Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka menyambut Hari Kartini, dengan mengusung tema “Merajut Silaturahmi, Menguatkan Sinergi, Mewujudkan DWP Kemenag yang Berdampak dan Berdaya.”
Acara yang dimulai sejak pukul 08.00 WIB ini dihadiri oleh pengurus dan anggota DWP dari seluruh Indonesia. Momentum Halal Bihalal ini tidak hanya menjadi ajang saling memaafkan pasca-Idulfitri, tetapi juga forum strategis memperkuat peran perempuan, khususnya para ibu, dalam keluarga dan masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, penceramah kondang Ustadz Maulana menyampaikan tausiyah ringan, jenaka, namun sarat hikmah. Ia menekankan pentingnya kehadiran ibu dalam lima momen krusial kehidupan anak. Pesan ini menjadi relevan dengan semangat Hari Kartini yang mengangkat peran perempuan sebagai pilar utama peradaban.
1. Saat Anak Sakit, Kasih Sayang sebagai Obat.
Menurut Ustadz Maulana, saat anak sakit, ibu harus hadir sebagai sumber kasih sayang. Dalam Islam, kasih sayang adalah manifestasi rahmat Allah. Sentuhan dan perhatian ibu mampu menghadirkan ketenangan, yang menjadi bagian penting dari proses penyembuhan.
Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah menurunkan satu bagian rahmat ke dunia yang dengannya makhluk saling menyayangi (HR. Muslim). Maka, kehadiran ibu bukan sekadar fisik, tetapi juga terapi batin bagi anak.
2. Saat Anak Sedih, Ibu sebagai Tempat Paling Nyaman
Ketika anak dirundung kesedihan, ibu adalah tempat pulang yang paling aman. Dalam bahasa sederhana Ustadz Maulana, “ibu itu kepo”—selalu ingin tahu kondisi anaknya. Namun, dalam perspektif Islam, itu adalah bentuk kepedulian dan amanah.
Kisah Nabi Ya’qub yang bersedih atas kehilangan Nabi Yusuf menunjukkan betapa pentingnya empati dalam keluarga. Ibu hadir untuk menenangkan, sementara ayah sering mengambil peran mencari solusi.
3. Saat Anak Berprestasi, Menguatkan Syukur dan Karakter
Saat anak meraih prestasi, seperti menerima rapor atau penghargaan, kehadiran ibu menjadi penguat rasa syukur dan kebanggaan yang sehat. Apresiasi dari ibu membangun kepercayaan diri anak sekaligus mengajarkan bahwa setiap keberhasilan adalah anugerah Allah.
Allah berfirman: “Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu” (QS. Ibrahim: 7). Di sinilah ibu berperan menanamkan nilai spiritual di balik capaian duniawi.
4. Saat Anak Liburan, Pendidikan dalam Kebersamaan
Liburan menjadi momentum penting untuk membangun kedekatan keluarga. Ibu, sebagaimana disampaikan Ustadz Maulana, adalah sosok yang teliti dalam mempersiapkan segala kebutuhan anak.
Dalam Islam, pendidikan tidak terbatas pada ruang kelas. Luqman memberikan teladan bagaimana mendidik anak dengan hikmah dalam berbagai situasi (QS. Luqman: 13–19). Liburan pun bisa menjadi sarana menanamkan nilai iman, akhlak, dan kebersamaan.
5. Saat Anak Menikah, Melepas dengan Doa dan Keikhlasan
Momen pernikahan adalah fase penting dalam kehidupan anak. Kehadiran ibu menjadi simbol restu, cinta, dan keikhlasan. Meski berat, ibu harus mampu melepas anak dengan doa terbaik.
Rasulullah SAW bersabda bahwa ridha Allah tergantung pada ridha orang tua (HR. Tirmidzi). Maka, doa ibu dalam momen ini menjadi kunci keberkahan rumah tangga anak di masa depan.
Melalui tausiyah Ustadz Maulana dalam forum nasional DWP Kemenag ini, tergambar jelas bahwa peran ibu tidak tergantikan dalam setiap fase kehidupan anak. Lima momen yang disampaikan bukan sekadar nasihat praktis, tetapi refleksi dari nilai-nilai Islam yang menempatkan ibu sebagai madrasah pertama dan utama.
Sejalan dengan semangat Hari Kartini, peran ibu bukan hanya di ranah domestik, tetapi juga sebagai pembentuk generasi yang berdaya dan berakhlak. Dari tangan seorang ibu, lahir masa depan bangsa, yang tidak hanya cerdas, tetapi juga beriman dan berkarakter. [] (Thobib)
