Menikah Itu Menakutkan?
“Marriage is scary.” Begitu kata sebagian generasi Z hari ini. Menikah terasa menakutkan.
Jumlah mereka tidak sedikit. Berdasarkan sensus 2020, generasi Z mencapai sekitar 74,93 juta jiwa atau 27,94 persen dari total penduduk Indonesia.
Survei Populix tahun 2023 menyebut 61 persen generasi Z menunda pernikahan, dan 64,56 persen pemuda belum menikah. Angka pernikahan pun turun 17 persen pada 2020–2024, meski pada 2025 sempat naik 3 persen.
Di sisi lain, realitas sosial juga mengkhawatirkan. Pergaulan bebas meningkat. Kehamilan di luar nikah terjadi. Angka aborsi disebut-sebut tinggi. Jika benar penundaan menikah justru membuka ruang perilaku seksual yang tak terkendali, maka ini bukan sekadar soal pilihan pribadi.
Ini soal masa depan generasi. Karena itu, bimbingan yang persuasif dan bijak menjadi penting. Bukan memaksa. Bukan menghakimi. Tapi mendampingi.
Sebenarnya, menunda menikah bukanlah dosa. Tidak juga selalu salah. Selama seseorang mampu menjaga diri.
Rasulullah menganjurkan: siapa yang sudah mampu, maka menikahlah. Karena menikah dapat menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan. Jika belum mampu, maka berpuasalah. Itu latihan pengendalian diri.
Menikah pada hakikatnya adalah kepastian. Kepastian halal dalam hubungan laki-laki dan perempuan. Kepastian komitmen dalam membangun keluarga. Di sana ada kebutuhan biologis, sosiologis, bahkan ideologis yang bertemu dalam satu ikatan: rumah tangga.
Tujuannya sederhana, tapi dalam: ketenangan, kepuasan, dan kebahagiaan.
Namun mari kita jujur. Menikah itu memang tidak mudah. Dua manusia dengan latar belakang berbeda dipertemukan. Watak berbeda. Kebiasaan berbeda. Cara pandang berbeda. Hampir mustahil menemukan pasangan yang sama persis dengan diri kita. Apalagi yang sempurna.
Dalam perspektif agama, pernikahan adalah sunnatullah. Jalan yang Allah tetapkan untuk keberlangsungan kehidupan manusia. Sayyid Sabiq dalam Fiqh al-Sunnah menjelaskan bahwa pernikahan adalah jalan yang dipilihkan Tuhan bagi manusia untuk berkembang biak dan melanjutkan kehidupan.
Menikah bukan sekadar mengikuti sunatullah. Ia adalah ikhtiar melahirkan generasi penerus. Generasi yang kelak menjadi khalifah di muka bumi.
Namun jika semua diukur dengan kalkulator belanja, mungkin banyak orang tak akan pernah menikah. Karena kebutuhan akan selalu terasa lebih besar dari kemampuan.
Takut menikah, dalam batas tertentu, justru sehat. Itu tanda kehati-hatian. Artinya seseorang ingin mempersiapkan mental, wawasan, dan tanggung jawab. Itu baik.
Tetapi ada juga yang sudah mapan, namun tetap memilih sendiri. Ia merasa cukup. Merasa bahagia tanpa pasangan. Ia khawatir kebahagiaan itu hilang jika menikah. Ia takut konflik. Takut KDRT. Takut dikhianati. Takut berpisah.
Coba tengok orang tua kita dulu. Banyak dari mereka menikah dengan bekal seadanya. Tanpa rumah mewah. Tanpa tabungan besar.
Mereka hanya punya keyakinan: menikah itu ibadah. Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang berusaha.
Al-Qur’an memberi penguatan dalam QS. An-Nur: 32. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan dengan karunia-Nya. Allah Mahaluas dan Maha Mengetahui.
Ini bukan janji instan kaya. Ini janji kecukupan bagi mereka yang berikhtiar dan menjaga komitmen.
Dalam hadis qudsi disebutkan, Allah menjadi “pihak ketiga” yang menjaga dua orang yang berkomitmen, selama keduanya menjaga amanah. Jika amanah dikhianati, maka keberkahan dicabut.
Artinya, inti pernikahan bukan sekadar akad. Tapi kesetiaan pada komitmen.
Menikah bukan hanya soal berani atau takut. Ia adalah pilihan untuk berkhidmah. Untuk membangun peradaban.
Dari keluarga yang harmonis lahir nilai akhlak dan moral. Dari keluarga yang sehat lahir generasi kuat. Anak-anak yang tidak rapuh menghadapi perubahan zaman.
Orang yang menikah dan membangun keluarganya dengan baik, sejatinya sedang menulis sejarah. Karena peradaban besar selalu lahir dari keluarga-keluarga yang kokoh.
Menikah adalah ikhtiar menghadirkan generasi emas. Generasi yang beriman, bertakwa, dan amanah mengelola bumi. Dan kelak, ketika usia menua, kita bisa tersenyum.
Anwar Saadi adalah Sekjen BP4 Pusat, menjabat sebagai penghulu
