Mitos atau Fakta: Perkawinan Menghambat Karier?
Sebagian perempuan karier terpelajar memilih menunda pernikahan karena beranggapan bahwa setelah menikah dan berumah tangga, pendidikan serta karier mereka tidak lagi dapat berkembang.
Sebagian perempuan karier terpelajar memilih menunda pernikahan karena beranggapan bahwa setelah menikah dan berumah tangga, pendidikan serta karier mereka tidak lagi dapat berkembang.
Usai dikukuhkan oleh Menteri Agama beberapa waktu lalu, Badan Penasihatan, Pembinaan, dan Pelestarian Perkawinan (BP4) Provinsi Sulawesi Tengah bergerak cepat memperkuat struktur organisasi hingga ke daerah.
Semangat emansipasi yang diperjuangkan Raden Ajeng Kartini tidak hanya membuka ruang bagi perempuan, tetapi juga menumbuhkan keberanian untuk melampaui batas sosial dan berpikir progresif.
Di balik gemerlap resepsi dan romantisme pra-nikah, ada fase panjang yang sering luput dari perhatian: kehidupan setelah akad.
Tidak semua rumah tangga berjalan dengan ritme yang sama. Ada pasangan yang begitu terbuka satu sama lain, saling memahami tanpa banyak gesekan. Namun, tidak sedikit pula yang justru tersandung oleh persoalan yang tampak sepele namun agak berat, rasa cemburu.
Al-Qur’an adalah petunjuk bagi umat manusia. Ia tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga memberi perhatian besar pada keberlanjutan generasi. Salah satu pesan yang sangat kuat adalah larangan meninggalkan generasi dalam keadaan lemah.
Dalam kehidupan rumah tangga, dinamika komunikasi sering kali menjadi warna tersendiri. Ada pasangan yang awalnya pendiam, namun setelah menikah justru menjadi lebih ekspresif, hangat, bahkan “rame”. Ini menunjukkan bahwa kepribadian dalam relasi tidak selalu statis.
Menteri Agama Nasaruddin Umar sekaligus Ketua Umum BP4 menegaskan, perlindungan anak harus dimulai sejak fase sebelum dan sesudah pernikahan melalui penguatan materi bimbingan di Kantor Urusan Agama (KUA)
Ketua Umum BP4 Prof. Dr. Nasaruddin Umar menegaskan pentingnya peran perempuan dalam membangun integritas keluarga dan masyarakat dengan meneladani sosok Asiyah, istri Fir’aun.
Sejalan dengan semangat Hari Kartini, peran ibu bukan hanya di ranah domestik, tetapi juga sebagai pembentuk generasi yang berdaya dan berakhlak. Dari tangan seorang ibu, lahir masa depan bangsa, yang tidak hanya cerdas, tetapi juga beriman dan berkarakter.