Living on Social Media: Antara Eksistensi dan Etika
Media sosial hari ini bukan lagi sekadar ruang berbagi kabar antar teman. Ia telah menjelma menjadi panggung eksistensi publik. Apa yang kita tampilkan di dunia […]
Media sosial hari ini bukan lagi sekadar ruang berbagi kabar antar teman. Ia telah menjelma menjadi panggung eksistensi publik. Apa yang kita tampilkan di dunia […]
Peradaban di jazirah Arab sebelum diutusnya Nabi Muhammad SAW mengalami titik kelam. Mulai persoalan akidah hingga urusan mu’amalah. Beberapa contoh tindakan yang tidak beradab seperti […]
Sering kita mendengar ungkapan klasik dari dunia filsafat Latin, Mens sana in corpore sano, di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Ungkapan ini bukan sekadar slogan, melainkan sebuah kebenaran yang telah diakui lintas zaman.
Di masa pensiun, ketika ambisi duniawi mereda, justru terbuka ruang untuk kembali kepada diri sejati, siapa kita, untuk apa kita hidup, dan ke mana kita akan kembali.
Kesetaraan gender dalam Islam seringkali menjadi perbincangan yang tidak pernah selesai. Di satu sisi, Al-Qur’an sebagai sumber utama ajaran Islam menghadirkan prinsip-prinsip yang sangat kuat tentang keadilan dan kesetaraan.
“Mengapa banyak orang rajin sholat, tetapi korupsi tetap berjalan? Mengapa ibadah tampak subur, tetapi akhlak tak ikut tumbuh?” Pertanyaan itu sederhana, tetapi menghunjam kesadaran kita bersama.
Dalam Islam, keluarga bukan sekedar tempat tinggal, tetapi ruang tumbuhnya iman, akhlak, dan peradaban kecil yang akan membentuk masa depan anak-anak.
Istilah yang pernah muncul beberapa waktu lalu “Serakahnomic” terasa menampar kesadaran kita. Ia bukan sekadar istilah ekonomi, melainkan cermin cara berpikir yang dibangun di atas kerakusan.
Munculnya gerakan kesetaraan gender di berbagai negara Islam, seperti Mesir, Tunisia, Aljazair, hingga Indonesia, tidak dapat dipahami sebagai gejala yang berdiri sendiri. Ia sesungguhnya merupakan respons historis atas produk-produk fikih klasik yang lahir dalam konteks sosial-budaya masa lalu yang sangat berbeda dengan kondisi masyarakat modern dewasa ini.
Berikut 5 tips parenting Try Sutrisno dan istrinya Tuti Sutiawati dalam mendidik putra-putrinya sebanyak 7 orang sesuai bakat dan bidang masing-masing yang diceritakan dalam buku Filosofi Parenting Try Sutrisno